Powered By Blogger

Tuesday, June 30, 2015

#30hari menulis, Hari ke 30, Yeay.....Lebaran.

Yeay.....
Hari ini akhirnya tiba juga, beberapa hari menjelang THR.
Ketika tahun lalu saya coba ikut ikutan dalam kegiatan ini. Saya merasa tahun lalu cukup berat, walau tanpa di tentukan temanya seperti saat ini.  Namun tahun ini saya coba lagi untuk melakukan hal yang sama. Walau tidak rutin menulis sebelum jatuh tempo setiap harinya. Tapi saya coba untuk berkomitmen bahwa tahun ini lulus dengan 30 tulisan.

Walau tahun ini diawali dengan 65 peserta, memang seperti tahun lalu, tidak semua akhirnya bisa menyetor dengan mulus ke-30 tulisan secara beruntun. Termasuk saya, saya juga tergelincir dalam memenuhi komitmen di hari ke-10, ketika tema bebas datang.

Mengingat kembali dalam 29 hari kebelakang sebelum hari ini. Tentu saja saya ‘mengintip’ dahulu tulisan teman teman di tiap harinya. Memang ada beberapa tulisan teman teman yang tidak mampu saya baca dikarenakan berbagai macam hal, beberapa tulisan di protek hanya untuk yang telah mengenal mereka. Atau yang menulis lewat blog pun saya tidak bisa membaca linknya. Maklum hape saya agak susah meloading tulisan dari blog.

Dari hasil intipan tersebut tentu saja saya menyukai beberapa tulisan teman teman yang menulis dengan gayanya masing masing, yang lucu seperti Bg Man dan Ruhyat, Fetty, Nunik, Indanavetta dan Koh Ridwan dan beberapa tulisan lain yang serius dan intelek seperti Merista, Koko, Elisabeth atau bahkan Anjani. Beberapa teman baru tahun ini yang saya suka baca yaitu Andin, Alkarana, Tentu saja saya menunggu hasil tulisan ‘ibu suri’  Teh Irma yang secara artikulasi sangat menyamankan bagi mata saya untuk membacanya.

Dan setelah 29hari, tulisan saya kadang mengundang beberapa jempol, tentunya dari peserta yang sebelumnya  saya jempol. Terkadang ada beberapa tulisan yang dikomen, walau Cuma untuk satu dan dua komentar. It is like what you get is what you give. Jujur saja saya kadang terlalu ‘malu’ untuk menulis komen ke tulisan teman. Takut ‘somehow i rub the wrong way’.

Di sini saya cuma bisa menulis kuantitas, dalam artian bahwa tulisan ini saya buat untuk saya pribadi yang sulit kali berkomitmen akan sesuatu, saya ingin menuntaskan 30 hari menulis. Ketika menengok ke belakang saya pun merasa ‘standar’ saya dalam menulis mungkin cuma berada di quarter ke-3 dari daftar penulis yang ada di #30hari menulis.

Tanpa berharap banyak, akhirnya melalui tulisan ini, saya telah memaktubkan tulisan saya sebanyak 30 tulisan. Untuk beberapa hari ke depan, saya belum akan merevisi catatan saya. Biarlah mengambang dahulu. dan ketika undangan ‘jambore’ ini datang lagi tahun depan. Saya akan berusaha lebih baik lagi. Dalam artian mengurangi kebosanan pembaca melalui tulisan saya.


Cheers,
Cherio,
Hasta La Vista.



Monday, June 29, 2015

#30hari menulis, Hari 29, Lagu yang menggambarkan perasaan saat ini ...

Dik Doank – Pulang

(Kenangan terentang//Bagai lukisan terpanjang

Tak pernah bertepi//Selalu ada dan menggoda
Bagai berbuah//Di relung hati

Aku rindu Ibu//Wibawa Ayah dan suasana yang ada

Yang pernah singgah//Terbayang-bayang perhatikan kamarku
Mulai dari sepatu bola bututku//Gambar mantan pacar yang tak jemu-jemu
Memandang kosong ruangan yang dulu

Pernah bercerita cinta yang membara//Seru-serunya

Kita lupa...kita buta... //Kita hampir saja

Aku rindu Ibu//Wibawa Ayah dan suasana yang ada

Yang pernah singgah//

Kalau kamu punya niat pulang//Kamu harus banyak membawa uang

Biar Ayah senang//Ibu bayar hutang
Mertua datang segera meminang//He....iye...he...iye...he..

Kalau kamu ingin ikut denganku//Kamu harus mandi dulu

Biar badan kamu tak menjadi bau//Dan aku tak malu dengan teman lamaku)


Sunday, June 28, 2015

#30hari menulis, Hari 28, Isi Tas Saya (dulu)

Isi tas yang dulu mengisi sehari hari yaitu.

1.    Minyak Angin Aromaterapi,
Lagi lagi kalau pusing tiba tiba menyerang, minyak angin ini sering kali membantu meredakan

2.    Beberapa Sachet t***k Angin
Dalam bekerja seringkali badan gak selamanya fit, salah satu nya minum ni obat biar dibilang pintar

3.    Jas Hujan.
Jaga jaga kalau kehujanan pas naek motor

4.    Agenda kosong, buku agenda yang berguna apabila sedang bertemu tamu yang lebih keren dari saya. Semacam pengkatrol keren.

5.    Block Note Kecil.  Mencatat detil detil selama bekerja, karena saya sangat pelupa

6.    Beberapa kue kue kecil, yang biasanya jadi pengganjal ketika tidak sempat makan siang saat kerja.

7.    Minuman botol dingin, apapun mereknya. Saya mudah haus.

8.    Charger, atau kabel Usb.

9.    Flashdisk

Itulah barang-barang yang sering berada di tas semasa kerja dulu. Kalau sekarang beberapa barang tersebut nyempil di dalam jaket ketika saya sering bepergian.




Saturday, June 27, 2015

#30hari menulis, Hari 27, Sahabat

#30hari menulis, Hari 27, Sahabat

Tulisan ini teruntuk sahabat, yang aku ketahui tidak satu.
Kepada sahabat yang telah mengenalku dan sebagaimana ia menjadi saudaraku seperti aku menjadi saudara baginya.
Memang jalan hidup dan pemikiran kita berbeda, tapi saat berjumpa hanya sahabatlah yang lupa akan waktu, yang tak peduli pada masa lalu, yang tak ingat bahwa sekarang kita berbicara di masa yang baru.

Kita bisa saja berjuluk Abbot & Costello, juga bisa bagaikan Bart Simpsons & Millhouse Van Houten, Atau Homer dengan Carl dan Lenny.
Kita bisa saja seperti Mulder dan Scully, atau Leonard Hoftstadter dan Sheldon Cooper.
Entah apapun itu namanya

Sahabat adalah keluarga pertama yang berada di luar garis darah.
Ya, Cuma sahabat yang ada di saat sedih atau suka,
Sahabat yang takkan lupa akan kenikmatan bersenda gurau seperti dahulu kala,
Sahabat pula yang setelah bertahun tahun tak berjumpa cita rasanya tak berubah.
Walau berbagai kenyataan hidup yang akhirnya membuat kita berpisah, kita tetap sahabat

Takkan berani aku membuat daftar sahabatku, karena daftarnya mungkin tak terlalu panjang.
Tapi ketahuilah sahabatku, semua masa yang pernah kita habiskan bersama takkan pernah aku sesali seumur hidupku.
Lelucon lucu yang masih hangat bagaikan baru terjadi 15 belas menit yang lalu,
Kita mungkin lupa itu sudah terjadi 15 tahun yang lalu.

Semoga 15 tahun kedepan, kita bercanda seperti malam malam sebelumnya.
Tentu saja, jika sudah waktunya, aku akan berkenan datang ke makammu seperti engkau akan hadir di makamku.
Disitulah sahabat akhirnya tak lekang waktu.

Friday, June 26, 2015

#30hari menulis, Hari 26, dan ketika .....

Ketika saya enggan untuk menjadi PNS 
1) Ayah saya seorang PNS dengan golongan IIIC, 
Bahwa hingga akhirnya bapak saya pensiun, gaji bapak satu bulan yang setara dengan gaji saya di bulan pertama kali saya kerja. Bahwa pengalaman bapak bekerja selama 25 tahun sebanding dengan saya yang bekerja untuk pertama kali di sebuah perusahaan. 

2) PNS menggadaikan Surat Keputusan atau SK Pengangkatan yang bertahun tahun semenjak pengangkatan berada di Bank. Terlepas ‘keterpaksaan’ yang mereka katakan dalam melakukan hal ini. Memang selalu ada dua sisi dalam melihat fenomena ini. Tapi lagi lagi, saya tidak sepaham mengenai ‘kehormatan’ yang tergadai di bank. Terlepas apapun orang lain berkata apa. 


3) PNS kerja semaunya, pelayanan yang buruk bahkan seringkali berkeliaran di Mall dan Warung Kopi di Jam kerja. Ini sesuatu yang tidak bisa dibantah dan menjadi kebiasaan buruk yang terjadi selama ini dan jarang sekali adanya penindakan disiplin atas mereka. 

Sekali lagi banyak pegawai swasta yang melakukan hal yang sama, namun mereka tidak digaji melalui APBN 

Memang itu alasan saya yang tidak pernah menyetorkan lamaran sama sekali setiap ada lowongan dari Dinas tertentu atau Badan pemerintahan tertentu. Namun sekarang setelah hampir sepuluh tahun berlaku. Ketika saya (dan keluarga saya) melihat saya tidak sesukses teman teman saya yang kini telah bekerja di berbagai Dinas dan Badan Pemerintahan di berbagai kota dan propinsi. 

Mungkin saja pilihan saya salah. 
Mungkin saja pilihan saya keliru. 
Mungkin ada oppurtunity cost yang tidak saya pakai selama 10 tahun ini. 

Sepuluh tahun mungkin waktu yang cukup lama untuk mengikis arogansi prinsip saya. 

Tapi biarkan saya bebal dalam pilihan saya seperti pilihan lain yang saya lakukan sebelumnya. 


#Akan diedit setelah buka puasa

Thursday, June 25, 2015

#30hari menulis, Hari 25, Tebak 5 lagu

Menjadi tulisan bebas untuk ke-5 kali. 
Jujur saja saya mulai kelimpungan dengan tema yang dibebaskan. Entah mengapa. 

Setelah kemarin mencoba mendeskripsikan tentang mata pelajaran favorit maka hari ini saya akan mencoba membuat tebak tebakan tentang lagu lagu yang mewarnai masa SMA saya waktu itu. saya akan mencoba deskripsikan lagunya ala bursa nada di berpacu dalam melodi. 

Ada beberapa dari lagu-lagu yang saya deskripsikan di bawah ini mungkin sudah ratusan kali terdengar di telinga saya dan masih memberikan ‘sensasi’ yang sama seperti pertama kali saya mendengarnya hampir puluhan tahun yang lalu. 

Lagu pertama yang saya coba bagi adalah lagu yang sewaktu masa SMA menjadi semacam lagu kebangsaan bagi saya pribadi. Yang ketika lagu ini di putar, seketika saya akan tenggelam dalam sesuatu yang sungguh personal. Saya akan bergeming layaknya patung dan meleleh lunglai karena lagu ini. 
Bercerita tentang seseorang yang bertemu dengan seseorang yang mirip sekali dengan mantan kekasihnya, ketika kehadiran seseorang tersebut membuat ia terbuai dan terlena. karena keinginan tak tentu arah dan ia berulang kali berusaha melupakan 

Lagu kedua yang memberikan sensasi yang sama yaitu sebuah lagu berirama jazz yang mengisahkan tentang perpisahan yang terjadi antar dua sejoli. yang dimana sang lelaki mengisahkan bahwa walau dia dan pacarnya sudah berpisah namun pacarnya masih cantik seperti dahulu saat pertama kali mereka berjumpa. Si lelaki mengatakan bahwa ia takkan pernah menyesali apa yang pernah terjadi dan menyatakan bahwa perih yang ada mendewasakan mereka berdua. Someone new come today again. 
Ada yang minta berapa not? 

Yang ketiga, lagu yang dinyanyikan oleh sebuah band dengan vocalist perempuan. Lagu yang seharusnya saya rasakan riang karena judulnya. Namun yang ada, si vocalist cewek malah bersenandung tentang melambung, tentang pelarian dari rasa takut, menceritakan bagaimana ia tak ingin dimaafkan dalam pelarian itu 

Keempat, lagu ini mengingatkan saya akan band luar dengan vocalist botak. Entah apa yang mirip dari kedua band ini. Lagi-lagi lagu ini dinyanyikan oleh vocalis perempuan yang bernyanyi tentang lelah dirinya , menemani hari. Bercerita tentang menelan riang dan menghadang debur ombak. Entah kapan ia akan datang. Mungkin besok, mungkin lusa. 

Lagu terakhir yang akan saya bagi yaitu lagu tentang seorang yang butuh bantuan karena sakit kepalanya. Di tinggal kekasih tanpa bilang permisi, merasa tak punya harga diri. Merasa dikhianati. 

Silahkan ditebak, 5 penebak pertama dengan jawaban benar akan saya doakan sukses menulis sampai hari ke-30. 


Cheers.

Wednesday, June 24, 2015

#30 hari menulis, Hari 24 Mensana in Corpore sano

Ini bukan hanya untuk sekedar berbeda dari tulisan teman teman.
Namun saya merasa saat SMA dulu, saya sangat lega ketika pelajaran olahraga dimulai.
Ketika semua murid mengganti seragam sekolah menjadi seragam olahraga. 
Saya suka ‘prosesi’ ini berlangsung. 
Ya, sekedar melihat mereka (teman cewek SMA) dalam balutan pakaian olahraga. 
Ya, memang ada perasaan yang berbeda kala itu. Mungkin itu pengaruh hormon atau lainnya. Berbeda saat saya menjalani pelajaran olahraga di masa SD ataupun masa SMP.

Ya, ketika masa SMA, yang saya ingat bahwa pelajaran olahraga itu pelajaran yang dimana guru yang bertugas sebagai pengajar olahraga jarang sekali untuk datang mengajar. Terkecuali saat tes atau praktek untuk ‘pengambilan’ nilai di pertengahan catur wulan atau menjelang akhir catur wulan. (ada yang masih ingat istilah CAWU ?  )

Pelajaran olahraga yang saya ingat adalah dua jam pelajaran kosong dalam satu minggu yang lebih sering membiarkan siswanya untuk bebas berolahraga. Bagi yang suka basket, bisa bermain basket, bagi yang suka sepakbola silahkan bermain sepakbola di lapangan. Bagi yang suka bermain volley juga bisa melakukannya. Dan bagi yang tidak suka berkeringat bisa saja cuma duduk menonton yang lain sedang berolahraga. 

Sekali lagi, saya bukan termasuk tipe atlit sekolah. Saya termasuk tipe penggenap, yang kadang atas nama pertandingan saya cuma hadir, berkeringat tanpa mempunyai keunggulan. Saat bermain basket, saya cuma pemain kelima yang kadang tugasnya passing saat menyerang, blocking saat diserang dan berlari bolak balik balik lapangan.
Ketika bermain sepakbola, saya hanya bermain sebagai pelengkap, lebih sering di taruh di bagian belakang, karena secara mental dan kemampuan dan fisik ternyata lebih banyak teman teman yang bermental sebagai penyerang atau striker. jangan tanya soal bola volley, menahan servis saja saya tidak mampu.

Namun dibalik semua itu, saya berolahraga cuma untuk sekedar keluar dari rutinitas belajar di sekolah. Masa SMA saya juga mengalami pasang surut dalam belajar. Ada masa dimana saya enggan untuk belajar, ada masa saya bolos kabur ke kantin, ada masa bahkan saya main qiu qiu di kelas. bahkan ada masa yang membuat saya bertanya mengapa saya harus sekolah.

Hingga akhir tamat sekolah, saya beruntung ‘tobat’ pada saatnya. Saya beruntung lulus dengan nilai yang cukup membanggakan kala itu. Walau nilai pelajaran olahraga saya sekedar cukup, bahkan jika di rangking mungkin saya berada di peringkat 37 dari 42 murid.

Tuesday, June 23, 2015

#30 Hari menulis : Hari 23 : Word Processor

Saya ingat bertahun tahun berlalu ketika saya sering kali ditugaskan oleh sekolah dalam menulis sebuah 'paper'. Saya yang memang sejak sekolah hingga kuliah terkenal sebagai  siswa/mahasiswa yang tulisan tangannya walaupun tidak jelek, namun sulit terbaca. Sehingga melalui penyataan satu dosen bahwa saya termasuk lima besar dari 90 mahasiswa yang tulisan tangannya susah terbaca. Sekali lagi susah terbaca. Baik cara saya merangkai tulisan dan juga cara saya menuliskan kalimat yang seakan akan membuat si pembaca harus mengisi/menerka kata yang tidak terbaca di dalam sebuah kalimat.

Saya mempelajari ‘word processor’ awalnya melalui mesin ketik. Saya belajar mengenai spasi, header footer, tanda baca, judul dan lain lain. Dengan mesin ketik saya juga belajar mempergunakan tipe-ex yang berguna untuk menambal tulisan di kertas saat itu. Memang saya tidak sempat mengikuti kursus sepuluh jari pada masanya. Saya hanya memanfaatkan mesin ketik yang dulu dibeli ayah saya di akhir tahun 1980an. Saya ingat bagaimana dulu seringnya membolak balik kertas untuk latihan menulis di mesin ketik, sekedar melemaskan jari jari biar tidak salah ketik.

Memasuki akhir tahun 1990an, saya yang dimasa SMA mempelajari program Wordstar 97, mempelajari beberapa trik dalam membuat tulisan. Beberapa fungsi Ctrl dan Alt sangat membantu dalam memudahkan pekerjaan menulis yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh mesin ketik. Tentu saja hilang sudah fungsi tipe-ex melalui program komputer ini. Di masa ini mungkin pernah saya singgung, bahwa dulu saya beserta seorang teman pernah membukukan kumpulan lirik-lirik lagu baik berbahasa Indonesia maupun lirik lirik lagu mancanegara. Di masanya kami kadang meminjam cover kaset dan CD dari teman hanya untuk memfotokopy lirik lagu yang kemudian kami input ke file lagu. Atau juga merekam melalui ‘kaset kosong’ beberapa lagu baru yang kemudian di dengarkan ulang hanya untuk mencatat lirik lagu tersebut. Ketika itu internet masih jarang dan mungkin belum masuk jaringannya ke kotaku.

Di awal tahun 2000, ketika program word processor mengalami perbaikan di berbagai sisi yang memudahkan penggunanya. Saya mengalami masa ini, ketika warung rental komputer mewabah di kampus kampus. Yang dimana beberapa dosen kadang menugaskan mahasiswanya untuk membuat paper dan tugas melalui program ini. Memang ada peningkatan kualitas dan fungsi-fungsi yang sebelumnya dari Wordstar ke Microsoft Word.

Melalui program ini pula dulu saya punya kegiatan sampingan, sebagai tukang ketik. Baik membantu tetangga membuat undangan, anak anak sekolah membuat tugas sekolah, hingga beberapa teman yang diminta untuk mengetik ulang skripsi yang telah dicoret-coret oleh dosen pembimbing. Alah bisa karena biasa.

Saya yakin bahwa dengan adanya perbaikan di berbagai sisi program ini, banyak sekali user yang mendapatkan kemudahan, baik itu novelis, cerpenis atau bahkan staf presiden yang bertugas untuk membuat pidato kenegaraan. Melalui program word processor pula, ‘penghematan’ kertas bisa dilakukan.



Monday, June 22, 2015

#30hari menulis, Hari 1 : Apa yang membuatmu menyukai film?

Menonton film merupakan terapi visi.
Menonton film juga bisa mengakibatkan penyimpangan persepsi.
Maka apabila ada yang menyatakan sebagai alat propaganda hal itu sangat memungkinan terjadi.

Jujur saja, dulu film pertama yang saya tonton itu Perwira dan Ksatria, Dibintangi Dede Yusuf dan Donny Damara. Saya nonton film itu di bioskop atas inisiatif pihak sekolah yang kala itu melibatkan seluruh muridnya untuk ‘refreshing’ ke gedung bioskop. Ongkos nonton bioskop kala itu beserta transportnya dari sekolah ke bioskop itu kalau tidak salah hanya seribu perak. Mungkin apabila tidak ada ‘pemaksaaan’ itu pengalaman pertama saya nonton film akan terjadi puluhan tahun kemudian.

Berpuluh tahun kemudian, saya hanya menikmati film melalui  film ‘bekas dan gratis’ yang setelah beberapa tahun tayang di bioskop kemudian akhirnya tayang televisi swasta. Untuk barometer film film terbaru saya dulu sangat setia menonton cinema cinema di stasiun TV Swasta sabtu sore untuk sekedar memantau film film baru yang akan tayang, Saya tahu kesempatan untuk menonton ke bioskop sangat kecil, duet Mayong dan Ira Wibowo sangat presentatif mewakili kalangan pecinta film. Menonton film di bioskop kala itu menurutku kebutuhan tersier. Belum lagi ada kesan segan yang tercipta kalau nonton bioskop tapi tidak mampu membeli makanan atau minuman yang dijual disana. Saya rasa tidak cuma saya yang terintimidasi dengan harga makanan dan minuman di bioskop Dalam bujet keuangan keluarga, rekreasi ala nonton bioskop itu setara dan tergantikan dengan makan ‘daging’ di awal bulan saat ayah gajian.

Passion untuk menonton film ‘baru’  yang selama ini tertunda kembali menemukan celahnya ketika pada menjelang akhir tahun 1990an, saat VCD Player terjangkau bagi khalayak ramai mulai menumbuhhkan rental VCD (mungkin juga vice versa). Film film hollywood, India bahkan film film seks tanggung (Point of View saat ini) tersaji di rental-rental VCD.  Ya, saya masih mengenali nama aktor aktris dengan nama nama unik seperti Reynaldi, Malvin Shayna, Febby Lawrence, bahkan Eric Scada. Beberapa tahun kemudian untuk Film terkenal ala Titanic, Spiderman 1, AADC, James Bond saya hanya bisa tonton via VCD Player karena keterbatasan. Untuk satu tiket bioskop seharga 10.000-15.000an perak itu setara dengan 4 atau lebih  VCD dengan harga sewa 2000-2500 per film, biasanya 2 film box office, 1 Film Keluarga, dan 1 VCD rahasia yang hanya bisa ditonton sendirian. yang akhirnya kuantitas mengalahkan kualitas.

Ok, setelah mampu secara ekonomi dalam artian sudah memiliki penghasilan sendiri, saya pun bagai ikan betok yang selama ini hidup dan tinggal di lumpur bersuka cita saat hujan turun. Syndrom ketakutan untuk menghampiri bagian F& B, atau Snack pun tertutupi. Kadangkala seminggu sekali -saya catch up film-film yang menarik bagi saya. Bahkan untuk summer movies pun tak canggung ditonton dua kali.

Bagi sebagian orang membaca itu bagaikan membuka jendela ke dunia baru. Menonton film bagi saya seakan merealisasikan imajinasi atas bacaan tersebut. Ada beberapa filsafah baru yang akhirnya saya terima dan resapi sebagai bagian dari pengalaman hidup di kemudian hari. beberapa contoh Saya masih ingat dengan quote Sean Connery di Entrapment, yang mengungkapkan ‘first we try then we trust’,  saya pun mengambil kesimpulan bahwa if we never try then we never trust.
Atau ketika saya menonton perjalanan karir Santiago Munez di Newcastle (Goal), tentang kepercayaan antar rekan setim. Scene yang selalu teringat saat Santiago yang lebih suka untuk ‘menggocek’ bola sendiri di paksa sang pelatih untuk mengejar bola yang ditendang. Di situ menegaskan secepat apa pun Santiago berlari, bola lebih cepat ketika di passing ke rekan se tim.

Atau bahkan sweet revenge yang tergambar di film Gangs of New York, dan Django Unchained pun terasa mempesona. Kisah inspiratif Pursuit of Happynes, Secret Life of Walter Mitty pun turut menjadi salah satu alasan saya menyukai film. Bahkan film Inglarious Basterd dan Life Is Beautiful juga memberikan persepsi yang berbeda

Film, Bioskop dan saya juga bisa dikategorikan sebagai terapi murah untuk self reboot
Film, Bioskop dan saya juga bisa saya analogikan sebagai persambungan tiga titik segitiga bermuda yang menenggelamkan saya sementara dari realita.
Film, Bioskop dan saya bagaikan ‘ibadah’ dalam dosis yang sangat kecil.

#30hariMenulis Day 2 ; Banyak

memulai kata pertama yang terdapat di halaman ke-2 dari sebuah buku tutorial yang berjudul membuat blog dengan blogger untuk pemula.

kata pertamanya adalah banyak.

Banyak sekali yang sudah berubah sejak 8 tahun aku pergi meninggalkan kota tempat aku lahir dan besar. 

banyak juga teman teman sebaya dan seperjuangan yang kini sudah menikah dan berketurunan dan menyisakan pertanyaan klasik.
Kapan?

Banyak juga hal lain yang sudah berubah dari diriku. setalah saat umur belasan aku coba meninggi, kemudian aku melebar, kini yang sedang kujalani proses penebalan. perutku tambah buncit. pipiku tambah chubby, dan penebalan lain di berbagai bagian tubuh.

Banyak hal yang dulu terlupakan kini perlahan teringat kembali. 

Ada sebuah buku lama yang kuingat dulu nya aku gunakan untuk mencatat nama nama penting dalam hidupku, yang aku buat dari dengan awalan A hingga Z. semacam ensiklopedia sederhana. Ala wikipedia dengan hanya satu kalimat yang mendiskripsikan nama tersebut.

beberapa nama yang terdapat di dalamnya adalah nama nama perempuan perempuan yang memikat hatiku semenjak sekolah dasar. jumlahnya pun puluhan. bahkan akan bertambah ratusan jika saja hobby ini aku teruskan semenjak tamat SMA 

Aku pun melihat lagi sebuah mesin tik tua, yang kini fungsinya telah tergantikan. aku ingat di mesin ketik tua ini, aku menuliskan lirik lagu dan kemudian dijilid dalam bentuk sebuah buku lagu. Mesin ketik tua ini juga menjadi saksi saat aku mencoba peruntungan membuat cerpen, puisi untuk berbagai majalah remaja di ibukota.

Ada pula yang kemudian mengajakku ke masa lalu. Album foto keluarga.
mulai dari foto keluarga, foto masa kecilku dengan berbagai macam kombinasi senyum diantaranya senyum gigi ompong. Foto almarhum papa di masa muda. 

Aku rindu papa.

Aku rindu untuk sekedar memberi kabar bahwa aku sudah pulang dan butuh bimbingan. Aku sudah pulang dan rindu wejangan. aku butuh kepercayaan diri yang dimana senyum dan lembutnya tutur kata melunakkan keluh kesahku.

Sempat aku membaca bahwa ada tiga medium untuk mengingat kembali ke masa lalu, melalui aroma/bau, foto dan lagu. kombinasi ketiganya di saat yang sama mungkin menimbulkan perasaan haru yang mendalam.

entahlah, akan kucoba sambung di lain waktu.

#30 Hari Menulis, Hari Ke-3 – Ceritakan Hidupmu dari sudut pandang orang lain.

Dulu Acil suka menelponku di jam-jam seperti ini beberapa malam dalam satu minggu. Setelah itu ia akan menanyakan sesuatu hal yang biasa, bercerita tentang sesuatu yang konyol yang dibalut dengan pertanyaan ilmiah seakan akan aku ini oracle yang bisa mengetahui jawaban atas semua pertanyaanya. Ia pun berusaha mendongeng dengan cerita-cerita yang hampir kurang masuk akal dalam dunia logika.

Ya, ia punya imajinasi yang tinggi, kadang juga punya ide yang terlalu cepat di zamannya. Pernah dulu ia bercerita tentang idenya yang mau ia bawa ke perusahaan kendaraan beroda dua. Sebuah inovasi yang katanya akan mengubah dunia kendaraan roda dua di Indonesia. 

Ya, ia menceritakan idenya tentang membuat tambahan radio, atau music player di sebuah motor. Langsung saja ide itu aku ‘counter’ dengan alasan bahwa tape radio yang ada dalam mobil aja bisa hilang apalagi alat semacam music player itu ditanam ke sepeda motor, apa gak makin kaya tu, para pencoleng. Acil pun terdiam.

Ia mengakui argumenku.

Ia juga sempat mengutarakan ceritanya bahwa suatu saat ingin menjadi orang yang sukses dan kaya raya. Ia bercerita tentang bagaimana kala itu ia mendengarkan duet motivator TDW dan JG yang mengungkapkan bahwa ada tiga cara mudah untuk menjadi kaya. Cara pertama yang tak mungkin ia rubah karena ia lahir dari keluarga yang sederhana, bukan seperti syarat pertama yang diungkapkan oleh sang motivator, bahwa untuk menjadi kaya ia harus lahir dari keluarga yang kaya raya.

Cara kedua yang dia ungkapkan bahwa dia harus menikah dengan seorang anak dari orang yang kaya raya. Cara itu pun ia ragukan tingkat keberhasilannya karena sejauh ini, selain aku sepertinya dia tidak mengenali pribadi lain yang memiliki karakteristik kedua. 

Cara ketiga yang dia ungkapkan yaitu dengan cara mendapatkan royalti atas apa yang ia hasilkan, semacam paten atas apa yang ia ciptakan, cara ketiga inilah yang membuat ia terpacu untuk melakukannya dan seperti salah satu idenya yang aku benamkan karena tingkat efisiensinya yang minim.

Ya, dia bukan seperti Tarzan Betawi yang diperankan oleh Benyamin S dengan segala keluguannya, ia memiliki ambisi yang cukup tinggi walau kadang lupa bahwa banyak benang halus tak terlihat yang telah menjegal langkahnya. Mungkin saja dia terlalu banyak menonton serial X-Files, yang kerap ia lontarkan bahwa Ia bagaikan Mulder dan aku Scully-nya. Akulah dokter yang bertugas untuk menentang teori mustahil yang ia ungkapkan. Ia juga sering bercerita tentang betapa terpesonanya ia dengan opening theme dari sebuah serial yang tayang di TVRI kala itu. Twin Peaks judulnya, kalau tidak salah. 

Ia, adalah pemuda lucu yang sampai saat ini agak sukar aku memahaminya. Ia pernah memberikan bingkisan bingkisan yang bagiku cukup eksentrik bahkan sangat norak. Bagaimana mungkin ia mempunyai pemikiran yang sangat berbeda dengan pemuda lainnya yang pernah aku kenal.

Tapi kini dia merupakan bagian kecil dalam sejarah hidupku. Sejarah yang kemudian aku simpan dan tinggalkan karena saat ini aku sudah berkeluarga dan telah memiliki dua orang anak yang lucu, aku juga sudah menemukan lelaki yang mengenapi diriku. Seorang soulmate yang mempunyai tingkat kecocokan sangat tinggi dibanding semua pemuda yang pernah mendekati diriku.

Hanya saja kadang aku tersenyum kecil ketika melihat apa yang ia lakukan di dinding facebooknya, mulai dari ‘curhat tak penting ’, puisi yang kadang ia comot dari berbagai lirik lagu, atau lagu lagu kenangan yang menurutnya mewarnai masa-masa ia mendekati diriku puluhan tahun yang lalu.

‘Some people never learn from their mistake. They just keep banging their head to the wall. Even though it’s make them bleed an lose their conciousness’

Perlahan lagu foo fighter, walking after you menemani akhir dari tulisanku ini.

#30HariMenulis Hari 4: How I Finally Met Tracy (and happy ever after)

Aku sudah bertemu banyak wanita yang awalnya aku sangka akan menjadi istriku, ada Robin Scherbatsky, sahabat dekatku, atau Victoria pastry chef yang sempat aku idamkan akan menjadi istriku selamanya. Jeanette polisi wanita yang 'eksentrik' juga Dr. Stella yang merupakan mantan tunangan yang meninggalkanku di altar pernikahan. dan beberapa wanita yang aku lupa untuk aku sebut satu persatu.  Dari semua itu ada Tracy McConnell yang akan aku jelaskan di paragraf setelah ini

Aku bersinggungan dan terhubung dengan saat Tracy menyenandungkan lagu la vie en rose di sebuah motel di daerah Farhampton, Dia tidak menyadari bahwa di ruangan sebelah kamarnya ada seorang pria yang terpesona dengan suaranya menyanyikan lagu tersebut. 

Ya, Tracy jugalah wanita yang ingin dikenalkan oleh Barney, beberapa saat menjelang rencanaku untuk pergi ke Chicago. Sambil bernyanyi Tracy mengingat bahwa ia baru saja menolak proposal lamaran dari Louis, kekasihnya. Ia pun mengingat lagi bagaimana ia pertama kali bertemu Louis yang membantunya membawa peralatan bandnya, Freakonomics. 

Tracy memang dianugerahi bakat untuk bermain bass, yang kemudian dengan bandnya menjadi Wedding Band di pernikahan dua sahabat terdekatku. 
Namun tiada yang menyangka bahwa kemudian bahwa Tracy sebenarnya telah berada di sekedar kami dalam beberapa tahun terakhir. ternyata Tracy selama ini telah mengenal teman temanku, Baik Marshall, Lily, Robin bahkan Barney.

Kami juga terhubung melalui sebuah payung kuning di sebuah stasiun Farhampton.
kami saling bercanda tentang bagaimana kisah kepemilikan payung kuning tersebut beserta inisial TM di dalamnya. bahwa selama ini Tracy telah mengenaliku saat di kampus dahulu.

Dengan Tracy, aku menemukan pasangan yang melengkapi aku, dialah orang yang selama ini aku cari.  

Sekarang kami sudah menikah dan mempunyai dua anak, Luke dan Penny. Dan bahagia selamanya. 

Barney dan Robin masih tetap bersama, mereka telah mengadopsi anak yang selama ini mereka idamkan. 
Marshall dan Lily juga mempunyai anak ketiga setelah Marvin dan Daisy.

#30 hari menulis – Day 5 : Bebas - Tonight Playlist

Mumpung bebas, dan setelah proses tulis dan hapus untuk beberapa ide tulisan, baiklah saya akan coba deskripsikan apa yang saya dengar di playlist saya malam ini.

Saat ini saya sedang mendengarkan sebuah lagu dari Manic Street Preachers, judulnya If You Tolerate This Your Children Will Be Next.
Sebuah lagu yang pertama kali saya dengar di tahun 1998 atau 1999. Jujur saja saya waktu itu tidak mengetahui formasi band ini, atau bagaimana cerita dibalik menghilangnya salah satu anggota bandnya yang raib hingga saat ini. Hanya deskripsi yang kadang diberikan oleh announcer radio di kotaku saat itu bahwa lagu ini diambil dari album kelima mereka dengan judul This is My Truth Tell Me Yours. 
Judul album yang lumayan menjadi semacam trigger ketertarikan saya akan band ini. Selain lagu diatas ada juga lagu the everlasting yang sangat saya suka dan dinyanyikan oleh band yang sama. 

Tenang kawan, saya tidak menceritakan betapa fanatik saya akan band ini.  Saya hanya ingin mengatakan bahwa terkadang saya menyukai lagu-lagu yang bahkan secara lyric saya belum bisa cerna kata per kata tapi sudah bersarang di hati saya. 

Dua lagu dari band lawas Pearl Jam yang saya dengar kemudian, judulnya Soldier of Love dan Last Kiss. Hadir di periode yang hampir sama sekitar tahun sekitar tahun 1999-an menuju tahun 2000. Entah mengapa dua lagu ini seperti lagu kebangsaan yang kapan pun diputar saya akan khidmad mendengarkan atau berteriak kencang bernyanyi bersama dengan suara saya yang fals sekadarnya.

Lagu lain yang saya dengar di playlist malam ini, Hazard dari Richard Marx. Ada perasaan mistis yang saya rasakan dilagu ini, cerita tentang meninggalnya Mary di lagu ini, menjadi suatu hal yang sangat lancar tersampaikan oleh Richard Marx, bahkan ketika ia berteriak menyatakan bahwa “ I think about my life gone by and how it’s done me wrong. There’s no escape for me this time, all of my rescues are gone. 

Mau ketemu orang yang menjual dunia? saya baru saja mendengar lagu tentang itu, Nirvana yang menyanyikan lagu the man who sold the world, sebuah lagu yang lagi lagi tak bisa saya lepaskan dalam ingatan bahwa lagu ini pertama kali saya dengar melalui album unplugged mereka. Band yang pada masa SMA sangat saya gemari. Saya juga suka dengar lagu teritorial pissing dari band yang sama.

Mungkin lagu selanjutnya agak jarang di dengar oleh teman-teman, kali ini saya sedang mendengarkan lagu Built To Last dari Melee.  Lagi lagi lagu yang saya tidak begitu mengerti lyricnya.  Lagu ini mampu  membuat saya masuk ke dimensi khayal. Saya membayangkan bahwa saya sedang berada di awan. Lagu ini wajib masuk dalam playlist apabila sedang bepergian atau dalam perjalanan jarak jauh. 

Lagu terakhir yang akan menutup tulisan saya yaitu Absolutely Zero, dari Jason Mraz, entah mengapa saya akan sangat mellow sesaat dan setelah mendengarkan lagu ini. Lagu yang bercerita tentang terjebak dalam situasi friend zone. Bagian lyric yang sangat mengena di hati saya yaitu saat Jason Mraz. If it’s for sale what is your offer, I’ll Sell it for no less then what i bought it for. Pay no more than absolutely zero. 

Akhirnya selesai juga di jam 10 malam, dua jam menjelang batas dateline ngumpul setoran day 5.
Sayonara. 

#30hari menulis, Hari 6 : It Follows

Saya akui tidak berbakat dalam menulis cerita horor.

Dikarenakan minimnya pengalaman bersentuhan dengan hal hal yang bersifat mistis dan juga keinginan pribadi untuk jauh dari pengalaman semacam itu.

Hanya saja beberapa bulan lalu ketika saya masih berada di pulau Batam terjadi sesuatu yang akan saya ceritakan di selanjutnya, kejadiaan itu terjadi ketika salah satu teman di kantor merasakan ada sesuatu yang sedang mencoba merasukinya. Dengan setengah sadar ia bilang untuk minta bantuan, bahwa ada sesosok makhluk yang mau merasukinya melalui belakang tengkuk. Yang jadi permasalahan saat itu bahwa di kantor cuma ada saya dan dia. Antara mau panik dan ketakutan, saya pun mencoba menelpon teman dan pimpinan yang kebetulan sedang tugas di luar kantor untuk segera membantu dan kembali ke kantor. Karena sekali lagi saya jelaskan saya tidak punya pengalaman apa apa mengenai hal ini.

Nah yang jadi masalah adalah ketika si teman yang kerasukan mengajak berkomunikasi dengan saya bahwa sekarang terjadi proses tarik menarik antara dia dengan makhluk yang sedang ada di dalam tubuhnya. Bahwa terkadang ia sadar bahwa makhluk itu seakan membisikan sesuatu dan ingin mengatakan mengapa ia bisa berada dalam tubuh teman saya tersebut.

Setelah beberapa saat, terjadilah perkelahian ala acara mistis tv swasta dimana sang medium mencoba menolak. Hingga akhirnya sang medium alias teman saya tadi kerasukan. Yang menjadi horror bagi saya ketika teman saya tersebut tiba-tiba mampu berbahasa asing dan menangis. Makin takutlah saya saat itu. sekitar 15 menit kemudian datanglah teman-teman yang lain beserta pimpinan perusahaan yang membawa ‘orang pintar’ yang kemudian ‘mengusir’ makhluk tersebut. Dari orang pintar tersebut di dapatlah penjelasan bahwa makhluk tersebut adalah makhluk jelmaan dari manusia perahu asal Vietnam yang dulunya di tampung di pulau Galang. Bahwa makhluk itu mengikuti teman saya setelah teman saya itu berwisata ke kampung Vietnam di pulau Galang. Memang melakukan setelah tindakan pengusiran dan netralisasi telah dilakukan, dan tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. 

Sejauh ini, hanya itulah persinggungan mistis pertama yang terjadi dalam hidup saya. 

#30harimenulis, Hari 7 : Juara Liga Champion, Barcelona catatkan hattrick musim 2014/2015.

Ya, kemenangan Barcelona tadi malam telah mencatatkan mereka ke jajaran klub top eropa yang telah memenangi Liga Champion sebanyak lima kali, 

Pertandingan tadi malam yang berlangsung di Olympiastadion Berlin mempertemukan Raksasa Spanyol dan Si Nyonya Besar asal Italia. Kedua klub tersebut juga mempertaruhkan gelar ketiga mereka musim ini. Ya, pemenang laga ini akan mencetak treble winner di musim 2014/2015. Pertandingan sendiri berlangsung dalam tempo yang cepat di babak pertama. Barcelona unggul lebih dulu melalui Ivan Rakitic, pemain yang baru musim ini bergabung bersama Los Cules dari Sevilla di menit ke-5.  

La Vecchia Signora, Juventus kemudian membalas di babak kedua melalui pemain pinjaman asal Real Madrid, Alvaro Morata di menit ke-55. Sebenarnya Juventus mampu mengimbangi Barcelona dalam permainan hingga menit ke 68, saat melalui dari skema serangan balik Luis Suarez menceploskan bola ke gawang Gianluigi Buffon dengan cara yang hampir mirip dilakukan oleh Morata sebelumnya 

Tertinggal satu gol, Juve mencoba untuk menyamakan kedudukan menjelang injury time, namun lagi-lagi dalam skema serangan balik di menit ke-95, Neymar Jr menambah keunggulan Barcelona menjadi 3-1 sekaligus mencatatkan gelar ke lima bagi Barcelona di liga Champion.

Pertandingan tadi malam merupakan tonggak bersejarah juga bagi Xavi Hernandes, persembahan terakhir dari legenda Azulgrana yang akan berlaga di musim depan, setidaknya Xavi Hernandes mengakhiri karirnya di Barcelona dengan hattrick juara di musim 2014-2015. Xavi juga mencatatkan rekor sebagai pemain yang terbanyak berlaga di liga champion dengan jumlah 151, mengalahkan rekor yang sebelumnya di pegang oleh Iker Cassilas 

#30harimenulis, Hari 8 : Cheap Smartphone

Majikanku sudah bangun pagi itu, sambil meraba raba disekelilingku ia akhirnya menemukanku. Dengan sentuhan lembut ia kemudian membuka layarku. Ada beberapa pesan yang tertinggal dalam aplikasiku, beberapa ping yang menumpuk. Ia kini lupa akan doa yang dulu ia sering ucapkan setelah bangun tidur. Bagaimana ia dulu terberkahi bahwa ia bisa menghirup udara subuh menjelang pagi.

Berdua kami bagaikan pasangan tak terpisahkan, ia akan selalu membawa power bank, charger hanya agar ia tak terpisah denganku. Ia tak ingin aku dalam kondisi sekarat di saat batereku melemah. Dalam aplikasiku, berbagai permainan telah dia install agar bisa menemaninya ketika serangan bosan mulai datang. Memang kadang aku dalam terserang demam yang tinggi ketika berbagai aplikasi terpasang dan dimainkan secara berbarengan.  

Namun tadi malam, sesuatu menyeramkan terjadi dalam deraian hujan, majikanku lupa bahwa aku terbuka lebar kemudian tergenang dalam air. Yang terjadi kemudian aku pun terbaring dalam keadaan koma. Berbagai langkah pencegahan atas rusaknya diriku telah ia lakukan, mulai dari proses pengeringan, pemisahan batere, hingga mendiamkan aku beberapa lama. Tapi air hujan tadi malam telah merusak sirkuit yang menghubungkan ku dengan layar, sehinga walaupun secara tekhnis aku baik baik saja, tapi ketika aku tak terlihat bagi majikanku, maka aku tiada berguna baginya. 

Majikanku, kini terlihat lesu dan lumpuh layu, ia berada dalam kondisi mati gaya, meninggalkan aku yang kini berada di sebuah di bagian ICU di servis handphone langganannya. Aku sebenarnya tak ingin berakhir sama dengan pendahuluku yang teronggok tak berdaya dikarenakan majikanku berkeberatan dengan biaya servis yang hampir sebanding dengan harga baru. 

Lima hari berlalu, aku masih saja menunggu majikanku untuk menjemputku. Dua minggu kemudian aku masih saja menunggu majikanku untuk menjemputku, mungkin saja karena ia belum gajian aku fikir. 

Dan kini aku pun berada di sebuah etalase berjejer bersama beberapa teman senasib yang setelah mendapat perawatan dijajakan untuk mendapatkan majikan baru.

#30harimenulis, Hari 9 : Bubur Ayam

Dulu katanya itu merupakan makanan yang disajikan hanya untuk orang sakit. Bagi sebagian orang bubur ayam terkadang menjijikan. Aku pun awalnya berfikiran begitu. Hingga akhirnya persepsi itu berubah saat menjelang kelulusan SMA dikarenakan aku terserang penyakit diare yang akut.

Seluruh cairan yang ada di dalam tubuhku terbuang belum pada waktunya. Ya, aku merasa sangat lemas sekali dengan kehilangan begitu banyak cairan dan serta bonus rutinitas baru kala itu. ya, tiap lima atau sepuluh menit aku mondar mandir ke kamar mandi hanya untuk menyetor, beberapa cairan bahkan segelintir apa yang mereka sebut tinja.

Ya, waktu itu bahkan aku sempat membawa sebuah bantal ke toilet hanya karena terlalu sering dan terlalu capainya aku saat itu. Mungkin tidak banyak yang tahu saat itulah terakhir aku berjumpa dengan bagian diriku yang masih terlihat kurus.

Dalam proses pemulihan, aku pun teringat akan kaulku, bahwa setelah aku sembuh aku ingin sekali menyantap bubur ayam. 

Permasalahan yang terjadi kemudian kala itu betapa susahnya untuk mencari penjual bubur ayam yang berada di lingkunganku. Butuh puluhan kilometer di bagian seberang kota untuk menemukan abang penjual bubur ayam. Dan yang menjadi pahlawanku kala itu adalah Papaku, bermodalkan sepeda Federal ayahku berjuang untuk mendapatkan bubur ayam. 

Memang akhirnya aku tidak sanggup menghabiskan bubur ayam tersebut dikarenakan masih ada sisa sisa obat yang mempengaruhi selera makanku, masih terasa pahit obat-obat anti diare yang diberi melalui resep dokter. Hingga kini, setiapkali aku menyantap semangkok bubur ayam, aku akan selalu terkenang akan perjuangan ayahku, yang rela demi kesehatan anaknya untuk melakukan segala cara agar sembuh.

My Father is My Hero.

#30harimenulis, Hari 10 : Marco

Sebuah episode di akhir season salah satu TV Series, Better Call Saul. Episodenya sendiri Berjudul Marco.

Di episode ini Jimmy McGill, atau yang dikemudian hari dikenal oleh para penonton dengan nama Saul Goodman berada di persimpangan. Ada perpisahan dengan saudara kandungnya Chuck, juga perpisahan dengan sahabat baiknya Marco, mungkin juga perpisahan dengan firma hukum HMM,

Di scene terakhir Jimmy McGill yang sering mendapatkan bantuan dari mantan Polisi, Mike Ehremaut bertanya tentang apa yang membuat Mike, tegas akan prinsipnya. 
Mike sendiri dalam dialog pendek hanya menjawab, bahwa dia dikontrak untuk melakukan suatu pekerjaan dan dia lakukan itu. terlepas apa yang terjadi setelahnya ataupun peluang yang ia lepaskan Mike berkata itu sudah bukan urusannya.

Dari situ Jimmy pun menggumamkan kembali lagu eye of tiger, yang seakan akan memberikan penegasan apa yang akan ia lakukan ketika kesempatan itu datang lagi.

Dari episode ini juga, aku sedang merasakan hal yang sama. Berada di persimpangan.
Nilai nilai agama, sosial serta etika lah yang mencerminkan aku yang sekarang ini.

Seperti batu keropos yang terhipnotis dan merasa bahwa ia mutiara yang walaupun tenggelam dalam lumpur akan tetap bersinar.

Entahlah, sekali lagi waktu yang akan menegaskan siapa aku dan integritasku.
Apa benar aku batu bernilai atau hanya batu yang terkorosi oleh angin, air serta udara yang melembabkan.

#30harimenulis, Hari 11 : Asril Luberta

Dying Young, Sekilas lagu itulah yang terbersit ketika menghadap nisan ini. Ya, sebuah lagu instrumentalia dari Kenny G yang merupakan soundtrack dari sebuah film yang sama. 

Ya, Asril yang kuingat adalah seorang teman yang terlalu teguh untuk menjaga keyakinan dan prinsipnya, termasuk tentang wanita yang ia cintai. Tergabung bersama ras Aries lainnya ia yang kutahu sangat keras kepala bahkan bisa dikatakan bebal. Ada beberapa prinsip yang dimana aku mengakui keteguhan hatinya. Tentang bagaimana ia berprinsip untuk tidak merokok seumur hidup, tidak untuk hidup dari apa yang bukan haknya, bagaimana ia yang terbiasa dalam antrian, atau hal hal sepele lainnya.

Jangan coba tawarkan rokok agar ia hisap, ia bisa dengan sangat sopan menolaknya, namun jika engkau melakukan hal itu lagi, ia akan membakar rokok yang kamu tawarkan layaknya sebuah obat nyamuk bakar. Ia akan biarkan saja rokok itu terbakar tanpa menyentuh bibirnya.

Prinsip lain yang aku sukai dari dirinya yaitu, tentang ia yang tetap sederhana dengan berbagai hal yang sebenarnya bisa ia lakukan dan menjadi kaya apabila ia mau sekedar ikut arus. Sekedar menerima suap, bukan korupsi. Ia masih saja berprinsip bahwa apa yang telah ia pelajari dari ajaran agamanya bahwa penyuap dan penerima suap, itu neraka hukumnya, tidak ada tapi, tanda bintang atau penjelasan lain yang akan memperhalus keterangan sebelumnya.

Tapi ada juga prinsip yang menurutku, aku tidak sepaham, tentang wanita yang ia cintai. Semenjak SMA hingga belasan tahun kemudian. Walau dalam tutur katanya ia telah melupakan wanita itu, tetapi tidak hatinya. Hatinya terlalu bebal untuk mengakui  bahwa ada wanita lain yang akan berjodoh suatu saat. Itulah hal yang selama ini yang membuat ia masih seorang diri di usianya.

Sekarang aku bergidik bulu roma saat membayangkan ketika ia belum sempat untuk menunaikan tuntunan dalam agamanya yang menyerukan tentang pernikahan. Ya, dengan menikah ia akan menyempurnakan keimanannya. Karena setelah menikah banyak rukun rukun yang bisa ia pelajari dan ajarkan ke istri atau anaknya. Ia telah berpulang saat ini tanpa sempat melakukan itu semua.
Semoga Allah Swt mengampuni dosanya. Tak lama kemudian aku pulang untuk sekedar mengingat bahwa esok lusa mungkin saja giliranku akan tiba.

#30harimenulis, Hari 12 : My Odd Bucket List

1. Menunaikan ibadah haji, Ya, satu tempat yang suci dimana setiap umat muslim yang pastinya apabila sudah ditetapkan dalam niat dan usaha akan saya singgahi sebelum saya mati

2. Jujur saja hingga saat ini saya orang yang biasa biasa saja. Tapi dalam hati saya, saya berkeinginan suatu hari ini akan ada semacam catatan yang menceritakan tentang saya. otobiografi salah satunya

3. Seperti pada umumnya orang kampung yang terpapar akan hal hal yang menggoda dari ibukota. Saya ingin masuk TV dengan alasan yang baik tentunya

4. Sebelum meninggal, saya sangat ingin mempunyai sebuah perpustakaan yang berisi  tentang sesuatu yang belum pernah atau belum sempat saya baca.

5. Sekedar teringat mungkin di suatu hari nanti, ketika tehnologi sudah mengejar batas umur.
Saya ingin mempunyai semacam OS yang ada di film HER

6. Belajar mengaji (lagi)
Memang sejak kecil saya bisa mengaji namun tidak terlalu fasih, apabila ada suatu kesempatan sebelum saya berpulang saya ingin memantapkan ilmu mengaji saya nantinya. Dengan tujuan akhir bisa khatam al qur’an.

7. Menjadi peserta Amazing Race atau Survivor suatu waktu, jika saja dalam beberapa tahun ke depan Indonesia sudah siap akan hadirnya reality ini.

8. Suatu waktu jika dimungkinkan saya ingin mempunyai suatu mini concert yang dimana saya bisa mengundang tamu musisi musisi yang saya idolakan.

9. Mungkin apabila sudah tidak terikat dengan hal hal yang sangat duniawi, ingin rasanya punya sebuah mobil trailer yang bisa di bawa keliling Indonesia.

10.  Ingin menciptakan perusahaan komik ala shueisa di Indonesia.  Akhir akhir ini saya sering menonton TV Series Silicon Valley, saya juga tertarik tentang bagaimana cara kerja perusahaan komik di Jepang yang saya pelajari di Anime Bakuman.

11.  Sebagai pecinta sepakbola, tentunya untuk sekali saja sebelum meninggal saya ingin menonton langsung Piala Dunia dalam jangka bertahun tahun kemudian.

12.  Melunasi hutang yang secara sadar dipunyai atau tidak secara sadar dipunyai, baik berupa materi ataupun hutang permintaan maaf.

#30harimenulis, Hari 13 : Tony Tony Chopper

Setelah dua tahun berlalu, akhirnya aku akan kembali bertemu teman temanku di Sabaody Island. Tempat terakhir dimana aku terpisah dari teman temanku yang tergabung dalam kelompok bajak laut topi Jerami.

Memang setelah dua tahun kami yang terpisah akhirnya akan berkumpul kembali di hari yang sama seperti yang di janjikan oleh kapten kami yang bodoh, Luffy.

Aku sendiri terlempar di suatu pulau yang berisikan makhluk makhluk eksotik dan penduduk pribumi yang ternyata secara peradaban sangat pintar. Di pulau ini aku belajar mendapatkan ilmu pengobatan serta tanaman obat yang akan berguna dalam perjalanan menuju New World bersama kaptenku.

Memang secara fisik aku mengalami penambahan bentuk perubahan dan aku tak sabar untuk mengarungi petualangan selanjutnya di New World.

Di dalam perjalanan aku bertemu dengan penembak ulung Usopp yang datang bersama navigator Nami  yang memelukku dengan hangat. Ia seakan merasa nyaman dengan bulu bulu tebal yang menumbuhiku dalam dua tahun ini. 

Dari kafe tersebut kami pun menuju Sunny, yang disana telah ada tukang kayu Franky dan Arkeolog Nico Robin. Sekarang kami sedang menunggu kapten kami yang bodoh Luffy dan si pemusik Franky. Sedang duo petarung kami Zorro dan Sanji sedang berada di kota sedang mencari perbekalan dan seperti biasa mereka bertengkar hal hal yang sepele.


Catatan Dokter Kapal Thousand Sunny, 
Tony Tony Chopper
3D2Y after Sabaody Tragedy
*)Tak sabar untuk menyanyikan lagi lagu sake sake binks

#30harimenulis, Hari 14 : Myself around Eight

Di penghujung tahun 1990an, aku dan beserta dua adikku datang ke rumah tetangga sebelah. Dengan syarat sudah mandi, kami pun mengetuk dan memanggil nama temanku, bahwa kami ingin menumpang nonton kartun. Ya, setiap jam 14.30 setiap harinya di TVRI ada tayangan kartun. Kala itu, televisi masih sangat jarang di punyai oleh orang orang di kampung.. 

“Acil dan adik adik udah mandi” Uwak bertanya pada kami

“Udah Uwak, Icong ada wak?” basa basi yang aku ucapkan agar bisa nonton ke rumah Uwak Ansori

Tak lama kemudian beberapa anak tetangga pun berdatangan. Memang ada keasyikan tersendiri kala itu ketika nonton kartun beramai ramai dengan teman teman.
Beberapa judul yang kini samar samar kuingat diantaranya, Silver Hawk, Defender of The Earth, Bumpty Boo, Galaxy Rangers hingga G Force.

Setelah 30 menit selesai kami pun keluar rumah dan mulai memerankan masing masing tokoh dalam kartun tadi, mulai dari anime G Force, Silver Hawk, Centurion.

Tentu saja dengan perawakanku yang kecil seringkali aku mendapatkan posisi ke-5 dari setiap kartun hero yang biasanya punya anggota ke-5.

#30harimenulis, Hari 15 : Bebas ke-3 kali

Waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam, seseorang baru saja menghapus lagi beberapa paragraf ide yang sebelumnya muncul dalam benaknya. 
Dengan cepat ia menekan Control A + Del + Enter.
Layar pun kembali putih. Tanpa judul, tanpa tema bahkan tanpa tulisan.

Beberapa saat kemudian ia mengumpulkan beberapa lagu yang akan ia masukkan dalam playlist malam ini, terdengarlah lagu Third Eye Blind, Deep Inside of You.
Ia pun keluar dari kamarnya menuju dapur. Merobek sachet kopi yang akan menemaninya merumuskan apa yang sudah menjadi komitmennya malam ini.
Pecahan es batu telah ia lepaskan dari bracketnya. Secangkir cappucino dingin pun siap menemaninya kembali ke layar komputer yang masih putih.

How It’s going to Be dari band yang sama mengalun selanjutnya. Sebuah lagu yang mengingatkannya akan sebuah film di tahun 1999 menuju tahun 2000 yang berjudul Can’t Hardly Wait. 
Ketika Jennifer Love Hewitt bukan seseorang yang bisa melihat hantu di Ghost Whisperer. 
Jennifer Love Hewitt berperan sebagai gadis pujaan yang sangat diinginkan oleh seorang kutu buku menjelang kelulusan sekolah. 
Kurang begitulah inti dari film itu. 
Can’t Hardly Wait mungkin satu genre kala itu dengan 10 Things I Hate About You, teen romantic comedy.  
Ketika Freddie Prince Jr lah yang jadi cowok pujaan kala itu. Heath Ledger sedang menapak karir atau bahkan Reese Weatherspoon sedang dalam masa berbinarnya di Film Legally Blond. 
Julia Stiles dan Neve Campbell juga dengan sangat indahnya menjadi Pin Up majalah remaja. 
Justin Long pun sedang lucu lucu saat membintangi Jeepers Creepers.

Sebuah bagian memori yang sebenarnya ia ingin bagi dengan pembacanya. 
Tetap saja ia tak menemukan tema yang pas ia tuliskan malam ini. 

Dan kemudian terdengarlah lagu lain dari playlist yang ia putar malam ini, That’s Why You Go Away dari Michael Learns To Rock.
Sebuah lagu melankolis yang mewarnai cinta pertamanya, seakan lagu I Swear dari All For One telah di tumbangkan dalam kategori list lagu romantis yang ia punyai. Ia ingat ketika itu, ia suka sekali akan lagu ini, bahkan dengan sangat rela untuk antri meminjam kasetnya dari seorang teman hanya untuk mencatat lirik dan menghapal lagunya. Lagu itu pula yang mewarnai cinta monyetnya bangku SMP.  Sunggu kini ia hanya tersenyum simpul saat mengetahui arti lagu itu sebenarnya dengan perasaan kasmaran yang ia punya. Apakah sebuah video klip telah menipu persepsinya dalam menikmati sebuah lagu.

Lagu yang ia dengar kemudian yaitu My Friends dari Red Hot Chilli Peppers akhirnya menutup tulisannya kali ini. 

“I Love all of You, Hurt by the cold”
“So hard and lonely too, when you don’t know yourself”

#30harimenulis, Day 16, Abu Abu

Abu Abu 


Mencoba menjadi kreatif dengan mendeskripsikan kata kata yang tepat untuk warna pilihanku. 
Ya abu-abu, sepakat dengan diriku yang kadang diselubungi nuansa suram dan tidak bersemangat. 
Abu abu, warna yang katanya merupakan pergabungan dari hitam dan putih. 
Abu abu yang saya ingat adalah sesuatu yang tidak jelas. Karena ketidak jelasannya maka mungkin Cuma warna ini yang diulang ulang secara kata. 
Entahlah 


Deep inside dalam hatiku aku bisa saja menjadi orang yang sebaliknya. 

Memang kadang aku tidak mampu meluapkan itu semua. 
Mungkin terserap abu abu. 

Entah benar atau tidak secara pembuktian namun seringkali kita menggambarkan bahwa abu abu itu tentang sesuatu yang tidak tegas, 

bersembunyi di balik putih dan terpapar keluar dari hitam. 


#30harimenulis, Hari 17 : Ibu

Aku akhirnya melihatnya pulang ke rumah, setelah bertahun tahun merantau ke pulau seberang setelah ayahnya meninggal.

Memang anakku yang satu ini jarang sekali bercerita. Namun akhir bulan lalu ia mengatakan ingin pulang. 
Bahwa ia tidak mampu lagi merantau, 
ia merasa bahwa setelah merantau ia tidak sesukses yang ia pikir.
ia hanya menjadi alas dan kaki bagi para pengupahnya.

Jika saja ia tidak terbebani akan prinsip moral yang mengikat ia dan ayahnya dulu. Mungkin ia akan pulang dengan banyak harta. Mungkin saja. Tak apa lah. Karena aku sudah rindu.

Aku masih bangga akan dirinya.
Aku tetap menganggapnya sebagai buah hati tersayang.
Aku fikir sudah saatnya ia pulang, dalam rencanaku ia akan aku jodohkan dengan anak saudara di kota ini.
Aku rasa masih ada jatah gadis yang rencananya akan aku jodohkan dengannya.

Sudahlah nak, kembali lah ke rumah
Ibu dan adik adikmu sudah rindu.

#30harimenulis, Hari 18 : Batam - Tanjung Pinang - Batam

Batam - Tanjung Pinang - Batam


Sejujurnya, saya termasuk orang rumahan. 

Saya hanya melakukan perjalanan hanya jika dikatakan sangat perlu, penting dan tak terelakkan.  
Nah perjalanan yang akan saya ceritakan termasuk kategori yang ketiga. 
Ketika itu perusahaan menugaskan saya ke pulau seberang di karenakan tidak ada yang bersedia untuk melakukan tugas satu hari itu. 

Perjalanan ini saya ingat terjadi beberapa tahun yang lalu. 
Dalam perjalanan pergi saya tidak merasakan sesuatu yang istimewa. Semua lancar apa adanya. 
Namun dalam perjalanan pulang, sambil menunggu kapal yang saya tumpangi penuh, saya bertemu dengan seorang bapak yang berpakaian agak lusuh yang menjajakan oleh-oleh khas dari tempat yang saya kunjungi. 
Secara sadar saya mengakui bahwa bapak itu sangat berbeda dengan almarhum bapak saya. 
Namun aura yang terpancar baik dari segi postur, hingga cara bertutur mengingatkan saya akan almarhum bapak saya. 
Bahkan sempat terbetik dalam fikiran saya bahwa jika almarhum bapak akhirnya pensiun dan enggan duduk santai di rumah, mungkin saja akan berjualan seperti bapak yang saya bicarakan ini

Sempat beberapa detik si bapak menjajakan barang dagangannya ke saya, saya sempat tertegun sejenak, hingga akhirnya saya hanya tersenyum kecil mengatakan tidak. 
Saya merasakan harga yang ditawarkan cukup mahal, dan ketika itu uang saku yang diberikan perusahaan cuma cukup untuk tiket pulang pergi.

Hingga akhirnya kapal kami akan berangkat dan si bapak akhirnya keluar dari kapal dengan membawa isi kardus yang sama dengan kardus yang ia bawa ke dalam kapal. 
Mungkin rejekinya ada di kapal berikutnya, begitu fikirku. 
Mungkin saja jika aku kembali lagi ke sini, aku akan siapkan uang yang cukup lebih siap untuk membeli oleh oleh dari si bapak. 
Sekali lagi aku tertegun.
Sekejap sesal timbul di benakku
Seandainya saja saat itu aku coba paksakan untuk membeli oleh-oleh tersebut.

Penasaranku tak akan berkembang sejauh ini.

#30harimenulis, Hari 19 : Sang Pemimpi

Sang Pemimpi 

Sebelumnya saya membaca tetralogi laskar pelangi, andrea hirata dengan urutan 2-3-1-4.
seperti sebuah formasi sepakbola yang sangat ampuh jika dalam urutan terbalik.

perkenalan saya dengan sang penulis pun melalui novel kedua ini. memang ada sesuatu yang menarik hati saya setelah membaca novel ini. 
Sang Pemimpi, begitu judulnya, disini Andrea Hirata bercerita tentang kehidupannya di Belitong pada masa SMA dan sekelumit perjuangannya untuk kuliah ke Jakarta.

Saya yakin tanpa harus menceritakan lebih lanjut, bahwa buku ini pasti sudah beredar di perpustakaan perpustakaan di kota kita semua.
Saya yakin tetralogi buku ini merupakan salah satu pilihan kado bagi saudara saudara kita yang sedang galau dalam menentukan cita cita dan arah hidup.

Cara Andrea Hirata bertutur di Sang Pemimpi sangat lugas bahkan terkesan sangat cair. baik lelucon ala kampung di belitong, atau bahkan cerita sang tokoh yang pergi ke jakarta dan berjualan alat alat kebutuhan rumah tangga. memang cara bertutur sang novelis sangat dipengaruhi oleh novelis novelis andal yang ada di luar negeri. Dengan sudut pandang tokoh pertama yang sangat kental tersirat dan tersurat diceritakan di novel ini.

Bagi saya, seperti yang saya ceritakan diatas, bahwa novel ini mampu membangkitkan gairah untuk menulis, bercita cita dan menggapai mimpi.
saya masih ingat dalam sebuah quote di novel ini yang mengatakan bahwa bermimpilah maka tuhan akan memeluk mimpimu.

Ost Sang Pemimpi yang dinyanyikan oleh GIGI juga mempunyai spirit yang sama.

Palembang, 20-06-2015
*) Ikutan nulis, telat lagi, berjuang lagi demi komitmen.

#30harimenulis, Hari 20 : Bebas (lagi) - Let’s talk about death.


No one can cheat the death. 

That's an absolute truth. 

Begitu banyak orang yang berdoa agar di panjangkan umurnya. Namun tiada menyadari bahwa walau satu detik, maut takkan terelakkan. 
Walau bersembunyi di bunker yang sangat aman, maut pun takkan bergeming. 

Memang akhir akhir ini aku sedang mencerna seperti apa tanda tanda mati. 
Apakah hilangnya motivasi, harapan dan visi merupakan salah satu tandanya? 
Apakah keinginan untuk bersilaturahmi dengan kerabat yang dulu jauh juga salah satu tandanya? 
Apakah tertutup dan kelunya lidah mengenai kabar tentang kematian itu juga syarat berikutnya. 
Apakah tertutupnya waktu dan tempat akan pertemuan di kemudian hari? 
Bahkan dalam beberapa tulisan terakhir membangkitkan self awareness dalam diriku bahwa aku bisa saja mati tanpa menyadari kapan saatnya. 

Jujur saja, aku belum ingin mati saat ini. 
Sebagai manusia aku masih punya bucket list yang belum aku contreng. 
Sebagai pria tentunya aku sangat ingin menikah sebelum mati. 
Karena dalam sistem sosial bahwa seorang manusia dan laki-laki hendaknya memiliki keturunan sebelum meninggal, singkat kata agar ada penerusnya. 

Terlepas bagaimana istri dan anakku kelak sepeninggal diriku. 
Terlepas mungkin saja aku menurunkan gen jelek yang akan membebat langkah anakku. 
Terlepas mungkin saja mereka akan menderita tanpa kehadiranku. 
Terlepas mungkin aku menurunkan hutang budi yang kemudian menjadi tanggung jawab mereka. 

Lagi lagi aku terdiam, kelu. 
Mungkin ada yang harusnya tak tersampaikan melalui tulisan ini. 
Mungkin ada pertanda yang masih harus jadi misteri saat ini. 
Seperti menabuh kembang api ke udara di malam hari, di waktu yang tepat dan berharap ada mata menatap walau dari kejauhan. 

Maut adalah misteri. 
aku pun tak mampu menolaknya. 
Kuharap ini bukan wasiat.