Ya, ia punya imajinasi yang tinggi, kadang juga punya ide yang terlalu cepat di zamannya. Pernah dulu ia bercerita tentang idenya yang mau ia bawa ke perusahaan kendaraan beroda dua. Sebuah inovasi yang katanya akan mengubah dunia kendaraan roda dua di Indonesia.
Ya, ia menceritakan idenya tentang membuat tambahan radio, atau music player di sebuah motor. Langsung saja ide itu aku ‘counter’ dengan alasan bahwa tape radio yang ada dalam mobil aja bisa hilang apalagi alat semacam music player itu ditanam ke sepeda motor, apa gak makin kaya tu, para pencoleng. Acil pun terdiam.
Ia mengakui argumenku.
Ia juga sempat mengutarakan ceritanya bahwa suatu saat ingin menjadi orang yang sukses dan kaya raya. Ia bercerita tentang bagaimana kala itu ia mendengarkan duet motivator TDW dan JG yang mengungkapkan bahwa ada tiga cara mudah untuk menjadi kaya. Cara pertama yang tak mungkin ia rubah karena ia lahir dari keluarga yang sederhana, bukan seperti syarat pertama yang diungkapkan oleh sang motivator, bahwa untuk menjadi kaya ia harus lahir dari keluarga yang kaya raya.
Cara kedua yang dia ungkapkan bahwa dia harus menikah dengan seorang anak dari orang yang kaya raya. Cara itu pun ia ragukan tingkat keberhasilannya karena sejauh ini, selain aku sepertinya dia tidak mengenali pribadi lain yang memiliki karakteristik kedua.
Cara ketiga yang dia ungkapkan yaitu dengan cara mendapatkan royalti atas apa yang ia hasilkan, semacam paten atas apa yang ia ciptakan, cara ketiga inilah yang membuat ia terpacu untuk melakukannya dan seperti salah satu idenya yang aku benamkan karena tingkat efisiensinya yang minim.
Ya, dia bukan seperti Tarzan Betawi yang diperankan oleh Benyamin S dengan segala keluguannya, ia memiliki ambisi yang cukup tinggi walau kadang lupa bahwa banyak benang halus tak terlihat yang telah menjegal langkahnya. Mungkin saja dia terlalu banyak menonton serial X-Files, yang kerap ia lontarkan bahwa Ia bagaikan Mulder dan aku Scully-nya. Akulah dokter yang bertugas untuk menentang teori mustahil yang ia ungkapkan. Ia juga sering bercerita tentang betapa terpesonanya ia dengan opening theme dari sebuah serial yang tayang di TVRI kala itu. Twin Peaks judulnya, kalau tidak salah.
Ia, adalah pemuda lucu yang sampai saat ini agak sukar aku memahaminya. Ia pernah memberikan bingkisan bingkisan yang bagiku cukup eksentrik bahkan sangat norak. Bagaimana mungkin ia mempunyai pemikiran yang sangat berbeda dengan pemuda lainnya yang pernah aku kenal.
Tapi kini dia merupakan bagian kecil dalam sejarah hidupku. Sejarah yang kemudian aku simpan dan tinggalkan karena saat ini aku sudah berkeluarga dan telah memiliki dua orang anak yang lucu, aku juga sudah menemukan lelaki yang mengenapi diriku. Seorang soulmate yang mempunyai tingkat kecocokan sangat tinggi dibanding semua pemuda yang pernah mendekati diriku.
Hanya saja kadang aku tersenyum kecil ketika melihat apa yang ia lakukan di dinding facebooknya, mulai dari ‘curhat tak penting ’, puisi yang kadang ia comot dari berbagai lirik lagu, atau lagu lagu kenangan yang menurutnya mewarnai masa-masa ia mendekati diriku puluhan tahun yang lalu.
‘Some people never learn from their mistake. They just keep banging their head to the wall. Even though it’s make them bleed an lose their conciousness’
Perlahan lagu foo fighter, walking after you menemani akhir dari tulisanku ini.

No comments:
Post a Comment