Powered By Blogger

Monday, June 22, 2015

#30hari menulis, Hari 1 : Apa yang membuatmu menyukai film?

Menonton film merupakan terapi visi.
Menonton film juga bisa mengakibatkan penyimpangan persepsi.
Maka apabila ada yang menyatakan sebagai alat propaganda hal itu sangat memungkinan terjadi.

Jujur saja, dulu film pertama yang saya tonton itu Perwira dan Ksatria, Dibintangi Dede Yusuf dan Donny Damara. Saya nonton film itu di bioskop atas inisiatif pihak sekolah yang kala itu melibatkan seluruh muridnya untuk ‘refreshing’ ke gedung bioskop. Ongkos nonton bioskop kala itu beserta transportnya dari sekolah ke bioskop itu kalau tidak salah hanya seribu perak. Mungkin apabila tidak ada ‘pemaksaaan’ itu pengalaman pertama saya nonton film akan terjadi puluhan tahun kemudian.

Berpuluh tahun kemudian, saya hanya menikmati film melalui  film ‘bekas dan gratis’ yang setelah beberapa tahun tayang di bioskop kemudian akhirnya tayang televisi swasta. Untuk barometer film film terbaru saya dulu sangat setia menonton cinema cinema di stasiun TV Swasta sabtu sore untuk sekedar memantau film film baru yang akan tayang, Saya tahu kesempatan untuk menonton ke bioskop sangat kecil, duet Mayong dan Ira Wibowo sangat presentatif mewakili kalangan pecinta film. Menonton film di bioskop kala itu menurutku kebutuhan tersier. Belum lagi ada kesan segan yang tercipta kalau nonton bioskop tapi tidak mampu membeli makanan atau minuman yang dijual disana. Saya rasa tidak cuma saya yang terintimidasi dengan harga makanan dan minuman di bioskop Dalam bujet keuangan keluarga, rekreasi ala nonton bioskop itu setara dan tergantikan dengan makan ‘daging’ di awal bulan saat ayah gajian.

Passion untuk menonton film ‘baru’  yang selama ini tertunda kembali menemukan celahnya ketika pada menjelang akhir tahun 1990an, saat VCD Player terjangkau bagi khalayak ramai mulai menumbuhhkan rental VCD (mungkin juga vice versa). Film film hollywood, India bahkan film film seks tanggung (Point of View saat ini) tersaji di rental-rental VCD.  Ya, saya masih mengenali nama aktor aktris dengan nama nama unik seperti Reynaldi, Malvin Shayna, Febby Lawrence, bahkan Eric Scada. Beberapa tahun kemudian untuk Film terkenal ala Titanic, Spiderman 1, AADC, James Bond saya hanya bisa tonton via VCD Player karena keterbatasan. Untuk satu tiket bioskop seharga 10.000-15.000an perak itu setara dengan 4 atau lebih  VCD dengan harga sewa 2000-2500 per film, biasanya 2 film box office, 1 Film Keluarga, dan 1 VCD rahasia yang hanya bisa ditonton sendirian. yang akhirnya kuantitas mengalahkan kualitas.

Ok, setelah mampu secara ekonomi dalam artian sudah memiliki penghasilan sendiri, saya pun bagai ikan betok yang selama ini hidup dan tinggal di lumpur bersuka cita saat hujan turun. Syndrom ketakutan untuk menghampiri bagian F& B, atau Snack pun tertutupi. Kadangkala seminggu sekali -saya catch up film-film yang menarik bagi saya. Bahkan untuk summer movies pun tak canggung ditonton dua kali.

Bagi sebagian orang membaca itu bagaikan membuka jendela ke dunia baru. Menonton film bagi saya seakan merealisasikan imajinasi atas bacaan tersebut. Ada beberapa filsafah baru yang akhirnya saya terima dan resapi sebagai bagian dari pengalaman hidup di kemudian hari. beberapa contoh Saya masih ingat dengan quote Sean Connery di Entrapment, yang mengungkapkan ‘first we try then we trust’,  saya pun mengambil kesimpulan bahwa if we never try then we never trust.
Atau ketika saya menonton perjalanan karir Santiago Munez di Newcastle (Goal), tentang kepercayaan antar rekan setim. Scene yang selalu teringat saat Santiago yang lebih suka untuk ‘menggocek’ bola sendiri di paksa sang pelatih untuk mengejar bola yang ditendang. Di situ menegaskan secepat apa pun Santiago berlari, bola lebih cepat ketika di passing ke rekan se tim.

Atau bahkan sweet revenge yang tergambar di film Gangs of New York, dan Django Unchained pun terasa mempesona. Kisah inspiratif Pursuit of Happynes, Secret Life of Walter Mitty pun turut menjadi salah satu alasan saya menyukai film. Bahkan film Inglarious Basterd dan Life Is Beautiful juga memberikan persepsi yang berbeda

Film, Bioskop dan saya juga bisa dikategorikan sebagai terapi murah untuk self reboot
Film, Bioskop dan saya juga bisa saya analogikan sebagai persambungan tiga titik segitiga bermuda yang menenggelamkan saya sementara dari realita.
Film, Bioskop dan saya bagaikan ‘ibadah’ dalam dosis yang sangat kecil.

No comments:

Post a Comment