Ketika saya enggan untuk menjadi PNS
1) Ayah saya seorang PNS dengan golongan IIIC,
Bahwa hingga akhirnya bapak saya pensiun, gaji bapak satu bulan yang setara dengan gaji saya di bulan pertama kali saya kerja. Bahwa pengalaman bapak bekerja selama 25 tahun sebanding dengan saya yang bekerja untuk pertama kali di sebuah perusahaan.
2) PNS menggadaikan Surat Keputusan atau SK Pengangkatan yang bertahun tahun semenjak pengangkatan berada di Bank. Terlepas ‘keterpaksaan’ yang mereka katakan dalam melakukan hal ini. Memang selalu ada dua sisi dalam melihat fenomena ini. Tapi lagi lagi, saya tidak sepaham mengenai ‘kehormatan’ yang tergadai di bank. Terlepas apapun orang lain berkata apa.
3) PNS kerja semaunya, pelayanan yang buruk bahkan seringkali berkeliaran di Mall dan Warung Kopi di Jam kerja. Ini sesuatu yang tidak bisa dibantah dan menjadi kebiasaan buruk yang terjadi selama ini dan jarang sekali adanya penindakan disiplin atas mereka.
Sekali lagi banyak pegawai swasta yang melakukan hal yang sama, namun mereka tidak digaji melalui APBN
Memang itu alasan saya yang tidak pernah menyetorkan lamaran sama sekali setiap ada lowongan dari Dinas tertentu atau Badan pemerintahan tertentu. Namun sekarang setelah hampir sepuluh tahun berlaku. Ketika saya (dan keluarga saya) melihat saya tidak sesukses teman teman saya yang kini telah bekerja di berbagai Dinas dan Badan Pemerintahan di berbagai kota dan propinsi.
Mungkin saja pilihan saya salah.
Mungkin saja pilihan saya keliru.
Mungkin ada oppurtunity cost yang tidak saya pakai selama 10 tahun ini.
Sepuluh tahun mungkin waktu yang cukup lama untuk mengikis arogansi prinsip saya.
Tapi biarkan saya bebal dalam pilihan saya seperti pilihan lain yang saya lakukan sebelumnya.
#Akan diedit setelah buka puasa

No comments:
Post a Comment