Sejujurnya, saya termasuk orang rumahan.
Saya hanya melakukan perjalanan hanya jika dikatakan sangat perlu, penting dan tak terelakkan.
Nah perjalanan yang akan saya ceritakan termasuk kategori yang ketiga.
Ketika itu perusahaan menugaskan saya ke pulau seberang di karenakan tidak ada yang bersedia untuk melakukan tugas satu hari itu.
Perjalanan ini saya ingat terjadi beberapa tahun yang lalu.
Dalam perjalanan pergi saya tidak merasakan sesuatu yang istimewa. Semua lancar apa adanya.
Namun dalam perjalanan pulang, sambil menunggu kapal yang saya tumpangi penuh, saya bertemu dengan seorang bapak yang berpakaian agak lusuh yang menjajakan oleh-oleh khas dari tempat yang saya kunjungi.
Secara sadar saya mengakui bahwa bapak itu sangat berbeda dengan almarhum bapak saya.
Namun aura yang terpancar baik dari segi postur, hingga cara bertutur mengingatkan saya akan almarhum bapak saya.
Bahkan sempat terbetik dalam fikiran saya bahwa jika almarhum bapak akhirnya pensiun dan enggan duduk santai di rumah, mungkin saja akan berjualan seperti bapak yang saya bicarakan ini
Sempat beberapa detik si bapak menjajakan barang dagangannya ke saya, saya sempat tertegun sejenak, hingga akhirnya saya hanya tersenyum kecil mengatakan tidak.
Saya merasakan harga yang ditawarkan cukup mahal, dan ketika itu uang saku yang diberikan perusahaan cuma cukup untuk tiket pulang pergi.
Hingga akhirnya kapal kami akan berangkat dan si bapak akhirnya keluar dari kapal dengan membawa isi kardus yang sama dengan kardus yang ia bawa ke dalam kapal.
Mungkin rejekinya ada di kapal berikutnya, begitu fikirku.
Mungkin saja jika aku kembali lagi ke sini, aku akan siapkan uang yang cukup lebih siap untuk membeli oleh oleh dari si bapak.
Sekali lagi aku tertegun.
Sekejap sesal timbul di benakku
Seandainya saja saat itu aku coba paksakan untuk membeli oleh-oleh tersebut.
Penasaranku tak akan berkembang sejauh ini.

No comments:
Post a Comment