Powered By Blogger

Monday, June 22, 2015

#30harimenulis, Hari 9 : Bubur Ayam

Dulu katanya itu merupakan makanan yang disajikan hanya untuk orang sakit. Bagi sebagian orang bubur ayam terkadang menjijikan. Aku pun awalnya berfikiran begitu. Hingga akhirnya persepsi itu berubah saat menjelang kelulusan SMA dikarenakan aku terserang penyakit diare yang akut.

Seluruh cairan yang ada di dalam tubuhku terbuang belum pada waktunya. Ya, aku merasa sangat lemas sekali dengan kehilangan begitu banyak cairan dan serta bonus rutinitas baru kala itu. ya, tiap lima atau sepuluh menit aku mondar mandir ke kamar mandi hanya untuk menyetor, beberapa cairan bahkan segelintir apa yang mereka sebut tinja.

Ya, waktu itu bahkan aku sempat membawa sebuah bantal ke toilet hanya karena terlalu sering dan terlalu capainya aku saat itu. Mungkin tidak banyak yang tahu saat itulah terakhir aku berjumpa dengan bagian diriku yang masih terlihat kurus.

Dalam proses pemulihan, aku pun teringat akan kaulku, bahwa setelah aku sembuh aku ingin sekali menyantap bubur ayam. 

Permasalahan yang terjadi kemudian kala itu betapa susahnya untuk mencari penjual bubur ayam yang berada di lingkunganku. Butuh puluhan kilometer di bagian seberang kota untuk menemukan abang penjual bubur ayam. Dan yang menjadi pahlawanku kala itu adalah Papaku, bermodalkan sepeda Federal ayahku berjuang untuk mendapatkan bubur ayam. 

Memang akhirnya aku tidak sanggup menghabiskan bubur ayam tersebut dikarenakan masih ada sisa sisa obat yang mempengaruhi selera makanku, masih terasa pahit obat-obat anti diare yang diberi melalui resep dokter. Hingga kini, setiapkali aku menyantap semangkok bubur ayam, aku akan selalu terkenang akan perjuangan ayahku, yang rela demi kesehatan anaknya untuk melakukan segala cara agar sembuh.

My Father is My Hero.

No comments:

Post a Comment