Ya, Asril yang kuingat adalah seorang teman yang terlalu teguh untuk menjaga keyakinan dan prinsipnya, termasuk tentang wanita yang ia cintai. Tergabung bersama ras Aries lainnya ia yang kutahu sangat keras kepala bahkan bisa dikatakan bebal. Ada beberapa prinsip yang dimana aku mengakui keteguhan hatinya. Tentang bagaimana ia berprinsip untuk tidak merokok seumur hidup, tidak untuk hidup dari apa yang bukan haknya, bagaimana ia yang terbiasa dalam antrian, atau hal hal sepele lainnya.
Jangan coba tawarkan rokok agar ia hisap, ia bisa dengan sangat sopan menolaknya, namun jika engkau melakukan hal itu lagi, ia akan membakar rokok yang kamu tawarkan layaknya sebuah obat nyamuk bakar. Ia akan biarkan saja rokok itu terbakar tanpa menyentuh bibirnya.
Prinsip lain yang aku sukai dari dirinya yaitu, tentang ia yang tetap sederhana dengan berbagai hal yang sebenarnya bisa ia lakukan dan menjadi kaya apabila ia mau sekedar ikut arus. Sekedar menerima suap, bukan korupsi. Ia masih saja berprinsip bahwa apa yang telah ia pelajari dari ajaran agamanya bahwa penyuap dan penerima suap, itu neraka hukumnya, tidak ada tapi, tanda bintang atau penjelasan lain yang akan memperhalus keterangan sebelumnya.
Tapi ada juga prinsip yang menurutku, aku tidak sepaham, tentang wanita yang ia cintai. Semenjak SMA hingga belasan tahun kemudian. Walau dalam tutur katanya ia telah melupakan wanita itu, tetapi tidak hatinya. Hatinya terlalu bebal untuk mengakui bahwa ada wanita lain yang akan berjodoh suatu saat. Itulah hal yang selama ini yang membuat ia masih seorang diri di usianya.
Sekarang aku bergidik bulu roma saat membayangkan ketika ia belum sempat untuk menunaikan tuntunan dalam agamanya yang menyerukan tentang pernikahan. Ya, dengan menikah ia akan menyempurnakan keimanannya. Karena setelah menikah banyak rukun rukun yang bisa ia pelajari dan ajarkan ke istri atau anaknya. Ia telah berpulang saat ini tanpa sempat melakukan itu semua.
Semoga Allah Swt mengampuni dosanya. Tak lama kemudian aku pulang untuk sekedar mengingat bahwa esok lusa mungkin saja giliranku akan tiba.

No comments:
Post a Comment