Powered By Blogger

Monday, June 22, 2015

#30harimenulis, Hari 20 : Bebas (lagi) - Let’s talk about death.


No one can cheat the death. 

That's an absolute truth. 

Begitu banyak orang yang berdoa agar di panjangkan umurnya. Namun tiada menyadari bahwa walau satu detik, maut takkan terelakkan. 
Walau bersembunyi di bunker yang sangat aman, maut pun takkan bergeming. 

Memang akhir akhir ini aku sedang mencerna seperti apa tanda tanda mati. 
Apakah hilangnya motivasi, harapan dan visi merupakan salah satu tandanya? 
Apakah keinginan untuk bersilaturahmi dengan kerabat yang dulu jauh juga salah satu tandanya? 
Apakah tertutup dan kelunya lidah mengenai kabar tentang kematian itu juga syarat berikutnya. 
Apakah tertutupnya waktu dan tempat akan pertemuan di kemudian hari? 
Bahkan dalam beberapa tulisan terakhir membangkitkan self awareness dalam diriku bahwa aku bisa saja mati tanpa menyadari kapan saatnya. 

Jujur saja, aku belum ingin mati saat ini. 
Sebagai manusia aku masih punya bucket list yang belum aku contreng. 
Sebagai pria tentunya aku sangat ingin menikah sebelum mati. 
Karena dalam sistem sosial bahwa seorang manusia dan laki-laki hendaknya memiliki keturunan sebelum meninggal, singkat kata agar ada penerusnya. 

Terlepas bagaimana istri dan anakku kelak sepeninggal diriku. 
Terlepas mungkin saja aku menurunkan gen jelek yang akan membebat langkah anakku. 
Terlepas mungkin saja mereka akan menderita tanpa kehadiranku. 
Terlepas mungkin aku menurunkan hutang budi yang kemudian menjadi tanggung jawab mereka. 

Lagi lagi aku terdiam, kelu. 
Mungkin ada yang harusnya tak tersampaikan melalui tulisan ini. 
Mungkin ada pertanda yang masih harus jadi misteri saat ini. 
Seperti menabuh kembang api ke udara di malam hari, di waktu yang tepat dan berharap ada mata menatap walau dari kejauhan. 

Maut adalah misteri. 
aku pun tak mampu menolaknya. 
Kuharap ini bukan wasiat. 

No comments:

Post a Comment